Ada dua belas nama di atas saya yang menyerahkan sesuatu sampai ke tangan ini, dan tidak satu pun dari mereka bisa saya pilih.
Saya tidak memilih lahir dari siapa, di kampung mana, dengan marga apa. Semua sudah ditetapkan sebelum saya sanggup berkata-kata. Yang bisa saya pilih hanya satu, hendak saya teruskan dengan baik atau saya sia-siakan.
Baca Juga:
Hinca Panjaitan Turun Tangan, Kasus Lima Lembu Mati di Kebun Dolok Ilir Diminta Diproses Tuntas
Dua belas orang itu sudah menyelesaikan bagiannya. Mereka membuka hutan, menyeberangi laut, bertahan melewati zaman yang jauh lebih keras dari zaman saya, dan entah bagaimana berhasil mengantar garis ini sampai ke saya tanpa terputus.
Saya menerima hasil kerja mereka secara cuma-cuma, seperti orang yang mewarisi rumah yang dibangun tangan orang lain.
Paling tidak yang bisa saya lakukan sebagai balasan adalah menjaga agar atapnya tidak bocor di masa saya, lalu menyerahkannya kepada anak saya dalam keadaan utuh.
Baca Juga:
Komjen Suyudi Ario Seto Jabat Kapolri, Hinca Panjaitan: Selamat Bertugas
[Redaktur: Tenno Purba]